NOTE 10 : BERTAMBAH DENGAN MEMBERI

Sekali waktu penulis secara tidak sengaja melihat seorang teman yang mengerjakan sesuatu amalan yang tidak diajarkan/dianjurkan oleh agama tanpa tahu tentang kebenaran mengenai apa yang dikerjakannya, sehingga penulis berusaha memberikan pengarahan berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki penulis dan mencegah dia untuk melanjutkan amalannya. Namun, bertitik tolak dari kejadian diatas, terlintas dalam fikiran penulis mengenai banyak hal seperti : apakah pendapat atau saran yang telah disampaikan kepada teman tadi sudah benar? Ataukah masih ada alasan lain yang bisa membenarkan amalan yang terkait dengan apa yang akan dia perbuat? Apakah cara penyampaian yang digunakan penulis sudah tepat?, sehingga tanpa sadar muncul berbagai pertanyaan yang diakibatkan oleh upaya penulis dalam menyampaikan kebenaran kepada temannya.
Kemiskinan akan ilmu pengetahuan membuat seseorang akan selalu ragu akan apa yang dilakukannya sehingga tidaklah salah jika seseorang harus memiliki wawasan yang seluas mungkin terhadap ilmu pengetahuan yang dipelajari atau dituntutnya, tidak hanya terpaku pada satu faham atau pendapat saja, namun harus berusaha merangkum berbagai pendapat dan faham lain sehingga bisa memetik kelebihan dan mengetahui kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing faham atau pendapat tersebut. Namun, bukan berarti kita harus membuat suatu faham atau pendapat yang baru diluar faham atau pendapat yang sudah ada, kita hanya berusaha untuk memperluas wawasan ilmu pengetahuan yang kita miliki sehingga bisa memahami dan menyikapi faham atau pendapat tersebut, yang mungkin saja tidak pernah terfikirkan atau teranalisa oleh akal fikiran kita.
Uraian diatas hanya memberikan gambaran sekilas tentang perlunya menyampaikan sesuatu yang kita ketahui kepada orang lain, karena dengan menyampaikan sedikit ilmu pengetahuan kepada orang lain, secara tidak langsung akan memotivasi kita untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah kita sampaikan, sehingga kita akan berusaha mencari bukti dan alasan yang lebih kuat lagi, yang tidak lain adalah ilmu pengetahuan yang lebih mendalam dan rinci tentang apa yang telah kita sampaikan.
Menyampaikan suatu kebenaran juga akan menjaga kita dari melakukannya sendiri, sebab tidaklah layak jika seseorang menyampaikan suatu kebenaran namun dirinya sendiri melanggar apa yang telah dia sampaikan. Kita menganjurkan orang lain mengamalkan sesuatu perkataan atau perbuatan tetapi kita sendiri tidak melakukannya, seperti contoh: kita meminta orang untuk memberikan sedikit hartanya kepada fakir miskin atau orang yang membutuhkannya tapi kita sendiri tidak sanggup menyisihkan harta yang kita miliki untuk disedekahkan atau diinfakkan. Hati nurani manusia yang murni tidak akan menerima tingkah laku seperti itu, tidak hanya mempermainkan manusia lain tapi mempermainkan hati nuraninya sendiri, hanya manusia munafiklah yang sanggup melakukannya.
Tidak hanya itu saja, seandainya kita telah menyampaikan suatu kebenaran kepada orang lain maka, kita juga akan berusaha untuk menjaga diri dari perkara besar yang berada diatas tingkat kepentingan dari perkara kecil yang telah kita sampaikan, seperti contoh: jika kita meminta orang berbuat baik kepada binatang/hewan maka, dengan sendirinya kita akan menjaga diri dari berbuat tidak baik kepada manusia karena manusia memiliki derajat/tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada binatang /hewan. Sehingga, semakin tinggi tingkat perkara yang kita sampaikan akan semakin tinggi pula usaha kita untuk menjaga dari perkara yang lebih kecil dari apa yang telah kita sampaikan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan wujud keluasan wawasan kita dalam hal membedakan tingkatan atau derajat dari beberapa perkara.
Bisa saja kurangnya minat untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan terutama dalam hal ajaran agama disebabkan oleh kurangnya kepedulian akan hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama itu sendiri, sehingga sulit sekali untuk meluangkan waktu dalam usaha mempelajari/menambah ilmu pengetahuan, bahkan menganggap dirinya sudah cukup dengan hanya sebatas melepas kewajiban beragama saja dikarenakan terlalu banyak waktu yang tersita dalam urusan duniawi yang dianggap jauh lebih penting.
Uraian diatas juga tidak akan berguna bagi orang yang tidak perduli akan kemuliaan ajaran agama yang dianutnya, sehingga dia tidak menyimpan rasa malu jika harus melakukan suatu kebaikan dan tak lama kemudian melakukan kebathilan. Orang seperti ini tidak ubahnya menyiramkan kotoran ke mukanya sendiri, membiarkan orang mengolok-olok dirinya yang tentu saja secara tidak langsung mengolok-olok ajaran agama yang dianutnya sebagai akibat perbuatannya. Bagaimana kita sanggup mengotori diri dan ajaran agama kita sendiri sementara sehari-hari terlihat seakan-akan kita penganut ajaran agama berdasarkan status yang kita miliki, mungkin akan lebih baik kita melepaskan saja atribut pemeluk suatu ajaran agama tertentu jika hanya untuk mengotorinya.
Sisi lain dari bentuk penyampaian adalah ketauladanan, jika kita sudah memberikan contoh suatu perkara kebaikan kepada orang lain dengan/tanpa menganjurkannya lewat lisan kita, namun terlihat jelas oleh orang lain amalan yang telah kita lakukan/perbuat. Hal ini juga akan menambah kewaspadaan kita untuk menjaga apa yang telah kita contohkan agar tidak rusak/ternoda oleh perbuatan kita lainya yang bertentangan atau tidak selaras dengan apa yang telah kita contohkan.
Begitulah, salah besar jika kita menganggap usaha untuk berbagi ilmu pengetahuan kepada orang lain akan mengurangi ilmu atau citra diri kita, namun sebaliknya dengan memberikan pendapat/saran atau contoh yang baik kepada orang lain akan membuat kualitas diri kita semakin bernilai tinggi.

Ref :
Al Baqoroh   : 44
Adh Dhuha   : 11

NOTE 9 : SEKITAR KITA

Coba kita lihat ke bawah, di lapisan tanah paling atas tempat kita berpijak, terpikirkah oleh kita disitu ada kehidupan yang tak tampak oleh indera mata atau terdengar oleh indera pendengaran kita?, bisa saja berupa mikrooragnisme yang belum tentu mampu dijelaskan dengan ilmu yang kita miliki walaupun hanya untuk mengklasifikasi jenisnya, apalagi jika untuk mendeskripsikan pola kehidupan mereka.
Coba kita lihat ke atas kepala kita, sadarkah kita disitu ada udara?, apakah kita tahu komposisi udara yang sekarang ada di atas kepala kita? bagaimana ion-ion udara bergerak bebas tanpa terdeteksi oleh insting sekalipun. Bagaimana yang jauh dari atas kepala kita, apakah kita sanggup memastikan jumlah benda yang ada di angkasa luar yang tanpa kita sadari/fikirkan bagaimana mereka bergerak, terdiri dari apakah mereka, apa yang terjadi di permukaan maupun di dalam benda tersebut, ternyata kita tidak akan mampu menghimpun seluruh alam semesta ini walaupun sekedar mempelajarinya saja.
Ribuan tahun manusia berusaha menguak fenomena yang terjadi di alam ini, namun hanya sebagian kecil saja yang bisa terungkap sebatas kemampuan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Inilah bukti bahwa akal manusia tidaklah mampu untuk menggapai semua yang diinginkannya, sehingga sangatlah tidak layak jika seorang manusia membandingkan ilmunya dengan Ilmu AllahSubhanahu Wa Ta’ala, karena Dia tidak hanya menciptakan namun juga mengatur seluruh alam semesta ini, sementara manusia hanya sanggup belajar dan berteori sesuai kemampuan akalnya saja.
Dengan berbagai macam disiplin ilmu, manusia berusaha mencari jawaban dari semua fenomena alam yang terjadi. Tidak hanya sebatas zat penyusun materinya saja, tapi termasuk interaksi/keterkaitan antara satu materi dengan materi lainnya, baik yang sejenis maupun berlainan jenis, sehingga semakin banyak cabang ilmu pengetahuan. Tidak hanya itu saja, manusia juga berusaha menguak aktifitas yang terjadi di dalam suatu materi, dari pertanyaan bagaimana materi itu bisa muncul sampai bagaimana materi itu akan hilang. Butuh waktu yang panjang untuk menguak itu semua, bahkan seorang manusia bisa menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari jawaban atas satu fenomena saja.
Sekali lagi, seorang manusia harus menyadari bahwa akal fikirannya tidak akan mampu menjelaskan seluruh fenomena alam. Hanya Zat Yang Maha Agung yang dapat mengkondisikan alam semesta ini hingga semuanya dapat berjalan dalam mekanisme aturan yang sempurna. Begitulah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara tidak langsung memberitahukan kepada kita, bahwa masih ada alam lain yang tidak bisa dijangkau oleh akal fikiran manusia, sebagai isyarat agar manusia bisa memahami/menerima semua aturan yang diperuntukkan kepada manusia, walaupun terkadang tidak bisa dijelaskan oleh akal fikiran.
Kita harus bersyukur dengan apa yang sudah diberitakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kita lewat ajaran agama, sehingga kita tidak usah menghabiskan seluruh hidup kita hanya untuk menguak fenomena alam semesta ini. Walaupun, sebagian manusia bertekad untuk berusaha membuktikan kebenaran dari sebagian berita yang diturunkan. Semoga usaha tersebut bisa menambah keyakinannya akan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun mereka juga harus berhati-hati mengambil kesimpulan atas usaha pembuktian mereka sebab terkadang secara tidak sadar syaithon bisa menyisipkan hal-hal negatif, sehingga bisa menyesatkan si pencari kebenaran dan/atau orang lain yang mempercayai hasil pembuktian tersebut.
Saat kita mulai melangkah, terkadang muncul bermacam keraguan dalam hati terhadap keyakinan akan agama yang kita peluk. Hal ini disebabkan karena ilmu dan iman yang kita miliki masih belum mampu menjelaskan keraguan yang timbul, sehingga kita harus meluangkan waktu untuk bisa menyendiri sambil meninggalkan semua perkara dunia, sehingga dapat lebih berkonsentrasi untuk merenungi/bertafakkur akan semua keraguan yang ada didalam hati. Usaha tersebut, dilakukan dengan harapan munculnya cahaya penerang hati yang akan membuat keraguan menjadi jelas dan terhindar dari kesesatan terhadap perkara yang menjadi keraguan.
Sebenarnya, keraguan yang muncul tidak lain adalah bisikan syaithon yang berusaha menyesatkan manusia. Namun, kita harus yakin bahwa semua ajaran agama yang murni tidaklah kurang sedikitpun, sebagaimana alam semesta yang telah diciptakan secara teratur pada posisi dan situasi masing-masing, begitu juga ajaran agama telah disempurnakan tanpa harus ditambah atau dikurangi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mewujudkan kasih sayangNya dengan mengarahkan manusia untuk mengikuti tuntunan agama agar berada pada posisi dan situasi yang tepat sehingga manusia bisa selamat dalam menjalani lintasan kehidupannya. Tidak seperti matahari, planet, tata surya dll yang patuh akan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga tetap pada lintasan yang ditetapkan sampai diperintahkan lain, sementara, manusia diberi akal fikiran dan hati untuk menjalani lintasannya sendiri.
Keraguan merupakan salah satu bentuk ujian terhadap hati dan akal fikiran untuk mengetahui sampai dimana keyakinan kita akan kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan sudah berapa jauh pengakuan yang tulus akan lemahnya diri kita tanpa bantuanNya. Jika kita berhasil melewati ujian dengan baik, maka akan bertambah nilai keimanan dan derajat kita sebagai manusia. Jadi, jangan mundur menghadapi ujian tapi yakinlah bahwa itu semua kasih saying Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kita agar derajat keimanan yang kita miliki terus bertambah. Seseorang tidak akan bisa naik derajatnya tanpa melalui proses evaluasi/ujian atas ilmu dan iman yang dimilikinya. Semakin banyak ilmu yang kita miliki semakin banyak ujian yang harus kita lalui, semakin tinggi iman kita semakin tinggi pula tingkat cobaannya. Yakinlah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala hanya akan memberikan Ujian/Cobaan sesuai kemampuan kita dan tidak akan lebih dari itu sehingga bersabarlah sambil berusaha mencari jalan terbaik dan berdo’a/memohon bantuan serta bimbingan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ref :
Ali  Imron     : 191
Al   Baqoroh : 32

NOTE 8 : LUMPUR HIDUP

Syaithon sudah bertekad, dengan segala daya upayanya untuk mengajak manusia ke jalan kesesatan, diantara cara yang paling ampuh untuk melaksanakan tekadnya adalah berusaha membuat manusia jauh dari Tuhannya dengan cara mengalihkan pandangan, pendengaran, fikiran manusia, sehingga manusia lupa akan keberadaan Tuhannya. Manusia yang telah jauh dari Tuhannya, maka terbukalah benteng pertahanannya, sehingga tidak ada yang bisa menghalau syaithon dari dirinya. Dengan demikian, syaithon dengan mudah mengajak dan merayu manusia ke dalam larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Syaithon senantiasa akan terus menunggu saat manusia lalai dan memberikan celah masuk bagi dirinya. Agama kita yang suci telah mengajarkan manusia agar berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari gangguan, ajakan, bisikan, rayuan dan tipu daya syaithon.
Manusia ditakdirkan sebagai makhluk yang lemah, sehingga syaithon memanfaatkan hal itu sebagai celah masuk untuk menyesatkan manusia. Terkadang, manusia terjerumus ke dalam perangkap syaiton melalui perkara yang tidak terlalu penting bahkan mungkin dianggap sepele. Terkadang pula perkara maksiat itu hanya dilakukan oleh satu orang saja, namun kemudian menjadi hal yang dianggap biasa oleh satu daerah atau ras tertentu, sampai akhirnya hampir seluruh manusia dalam satu negeri melakukan perkara maksiat tersebut.
Begitu hebat perangkap syaithon, sehingga penulis mencoba mengibaratkannya dengan lumpur hidup/hisap yang membawa benda yang jatuh ke dalamnya, terus ke dalam dan bertambah dalam. Ironisnya lagi, semakin manusia berusaha dengan menggerak-gerakkan badannya semakin bertambah cepat manusia terhisap ke dalamnya sampai akhirnya manusia tenggelam dan mati. Begitulah keadaan manusia yang berada dalam perangkap syaithon, semakin dia berusaha dengan kekuatan dirinya sendiri maka semakin kuat jerat perangkap syaithon mengikatnya.
Manusia yang sudah terperangkap oleh satu saja perkara maksiat, jika tidak segera diperbaiki maka, perlahan namun pasti manusia akan ditarik pula ke dalam perkara maksiat yang lainnya sampai akhirnya manusia sulit melepaskan semua jerat perangkap yang sudah mengikat dirinya, hal ini bisa terjadi disebabkan karena satu perkara maksiat akan mendukung untuk terjadinya perkara maksiat yang lainnya. Seperti halnya, seorang pecandu narkoba yang identik dengan pergaulan bebas dengan segala macam jerat kenistaan di sekitarnya bahkan tak jarang untuk memenuhi hasratnya harus melakukan kejahatan yang tadinya belum tentu mampu dilakukannya saat dirinya masih normal. Seorang pecandu narkoba yang berusaha sembuh dan bangkit dari lumpur kenistaan harus menempuh usaha yang berat untuk kembali seperti kondisi normal kehidupannya.
Sebagian manusia ada yang tahu bahwa di hadapannnya ada perangkap, namun saat dirinya melangkah untuk melewati perangkap tersebut, syaithon berupaya mengalihkan perhatiannya sampai hilang konsentrasinya, sehingga dengan demikian ada kemungkinan manusia tersebut secara tidak sadar/sengaja tergelincir dan akhirnya masuklah dia ke dalam perangkap. Dengan demikian, kita harus tetap mengontrol diri kita agar tetap konsentrasi dengan langkah kita dan selalu mengevaluasi setiap bisikan/fikiran/perasaan yang datang agar kita tidak mudah dibelokkan atau digelincirkan ke arah perkara maksiat.
Ketika seorang sudah masuk dalam perangkap, dia akan berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan pegangan, tentunya harus lebih kuat dari daya ikat perangkap. Begitu juga keadaan seorang yang akan memperbaiki dirinya dari perangkap maksiat, dia harus mencari tempat berpegang yang kokoh dan menggenggamnya dengan kuat. Setelah yakin bahwa dia sudah memilih pegangan yang bisa menyelamatkan dirinya maka, perlahan dia menarik dirinya keluar dari perangkap.
Jadi, untuk meninggalkan satu perkara maksiat maka, carilah sesuatu hal yang kita sangat yakin hal tersebut bisa melupakan/menjauhkan kita dari perkara maksiat, seperti: mencari kegiatan lain atau memindahkan kegiatan ke tempat yang kegiatannya lebih baik atau dengan cara mengalihkan fikiran ke sesuatu yang lebih berguna dan bermanfaat. Dan biasanya setelah selamat dari kubangan lumpur, tentunya badan kita perlu dibersihkan dari semua lumpur yang melekat pada tubuh kita maka, perkara maksiat yang telah kita lakukan harus kita bersihkan dengan cara memperbanyak permohonan ampun dan amal kebaikan. Diluar semua usaha yang kita lakukan, Yakinlah segala sesuatu ada dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka, kita sebagai hambaNya yang lemah harus senantiasa berdo'a dengan segala kerendahan hati dan penuh harapan yang mendalam agar terus menerus mendapatkan bimbingan dan bantuan dariNya.

Ref :
Az  Zukhruf    : 36-37
Ali Imron        : 135

NOTE 7 : LINGKARAN ATURAN

Setiap kita, secara langsung maupun tidak langsung, akan menjadi hamba dari siapa atau apa yang dipatuhinya. Ada yang dengan terpaksa, ada yang sengaja da nada yang tidak sadar menjalani kepatuhannya dan sebagai bentuk penghambaan dirinya pada sesuatu. Saat kita patuh kepada suatu perintah atau larangan maka, secara tidak langsung kita sudah menjadi hamba dari yang memberi/membuat perintah atau larangan tersebut.
Menjadi seorang hamba diharuskan mengikuti aturan yang sudah dibuat oleh majikannya. Seorang abdi Negara harus patuh terhadap semua aturan yang mengikatnya sejak dia resmi diangkat/dipilih. Seorang abdi masyarakat harus lebih memikirkan masyarakatnya dari pada dirinya sendiri, apalagi hanya untuk kepentingan golongannya saja. Seorang guru, harus berusaha semaksimal mungkin agar muridnya mengerti tentang apa yang diajarkannya. Saat ini mungkin sudah tidak ada lagi hamba sahaya seperti yang ada pada zaman sebelum kita. Seorang hamba sahaya mau tidak mau harus mematuhi aturan yang dibuat oleh tuannya.
Sejak kita terlahir, kita sudah berada dalam suatu aturan yang mau tidak mau harus kita jalani yaitu, Takdir. Kita juga sudah berjanji, saat kita diciptakan, untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, namun Sedikit sekali manusia yang sanggup secara konsisten mematuhi perjanjian yang sudah disepakatinya tersebut. Kebanyakan manusia terlena atau lebih tepatnya dibuat terlena oleh permainan yang dibuat oleh rayuan syaithon dan dorongan hawa nafsu..
Aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak seperti aturan yang dibuat manusia. Terkadang, saat kita mencuri, membunuh atau sekedar melanggar lampu merah, kita dapat dengan mudah meloloskan diri dari jerat hukuman, bahkan bisa saja hal itu tidak terungkap sampai akhir hayatnya. Itulah aturan manusia, bagaimana dengan aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Sudah pasti dan yakinlah, seluruh amal perbuatan, ucapan maupun yang tersirat di dalam hati manusia tidak akan pernah lolos dari pengawasan dan perhitungan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Setiap kita berada dalam bermacam-macam lingkaran aturan yang semu dari berbagai macam diameter. Sebagai konsekuensinya, kita juga memiliki banyak tuan-tuan semu dan terus berganti seiring dinamika kehidupan manusia. Jika sebagai warga Negara, kita diikat oleh aturan RT, Camat, Bupati, Gubernur sampai Presiden bahkan aturan internasional. Begitu juga halnya, saat kita berada diposisi sebagai murid, pekerja, anggota organisasi, dsb. Bisa juga yang bersifat sementara seperti: saat kita berada di masjid berarti kita berada dalam lingkaran Rahmat, sebaliknya jika kita berada dalam lingkungan maksiat berarti kita berada dalam lingkaran laknat. Kita akan tetap berada dalam suatu lingkaran sampai kita melakukan pelanggaran terhadap aturan yang ditetapkan, sehingga membuat kita dikeluarkan dari lingkaran tersebut.

Lingkaran sejati adalah aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang senantiasa ada sampai batas waktu yang tidak bisa kita tentukan, sehingga Tuan yang sejati adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seharusnya, kita mengikuti aturan yang ada untuk menjaga kestabilan lingkaran tersebut dan diri kita sendiri sebab pembuat aturan tentunya lebih tahu dari yang diatur. Namun terkadang, secara tidak sadar, kita merasa/menganggap diri kita sudah mampu memposisikan diri kita di level pengatur (pembuat aturan), sehingga kita membuat aturan baru diluar aturan yang sudah ada.
Kita, sebagai makhluq, diwajibkan untuk belajar untuk mengetahui batasan-batasan yang dapat membuat diri kita keluar dari lingkaran Sang Kholiq. Sehingga, kita bisa menghayati dan meyakini dengan hati yang tulus bahwa kita berada dalam suatu lingkaran agama yang murni yang mengatur kehidupan kita. Hanya saja kita harus berhati-hati membedakan mana ajaran sebenarnya dan mana ajaran yang telah dimanipulasi atau dibuat-buat, sehingga kita harus menuntut ilmu sebanyak mungkin untuk bisa membedakan mana yang hak dan mana yang bathil.
Ketidaktahuan atau kurangnya ilmu pengetahuan akan aturan yang melingkari dirinya membuat seorang manusia secara tidak sadar telah melanggar aturan yang ada dalam lingkaran dimana dirinya berada. Sebagai contoh saja, jika kita memuji seseorang atas suatu kelebihan yang dimilikinya, nampak sekilas pujian itu merupakan hal yang baik untuk menghormati atau membuat senang orang yang dipujinya. Seandainya, dalam hati kita, meyakini kelebihan itu mutlak memang miliknya maka, kita telah menyalahi aturan agama dengan meniadakan Sang Pemilik Kelebihan itu yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Banyak sekali hal yang serupa dengan contoh diatas, yang pada intinya, ada dalam hati kita, bagaimana kita bisa menghubungkan segala perkara dengan Keberadaan AllahSubhanahu Wa Ta’ala, baik urusan agama maupun urusan dunia sekalipun agar kita tetap terjaga dalam lingkaranNya.
Sikap sebagai hamba, sangat diperlukan disaat kita menemukan aturan/ajaran agama yang meragukan diluar kemampuan akal manusia atau bahkan tidak masuk akal sama sekali dan tidak dapat djelaskan dengan tekhnologi tercanggih sekalipun. Saat itulah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguji keimanan manusia, apakah mereka masih menghambakan dirinya kepada akal fikiran atau dengan ikhlas menghambakan diri (termasuk akal fikiran) kepadaNya. Seorang hamba, juga tidak akan cepat berkeluh kesah dalam melaksanakan perintah, karena dia sangat yakin bahwa penghambaannya merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan dalam hidupnya dan tidak akan mengharapkan pamrih diluar yang telah dijanjikan atas penghambaannya.

Ref :
Al Baqoroh    : 21
Az Zariat       : 56

NOTE 6 : HARGA KETIADAAN

Setiap orang merasa sedih dan menyesal, jika kehilangan sesuatu yang dianggap berharga bagi dirinya. Kita juga akan merasa bersalah, karena mereka menyia-nyiakan sesuatu yang sudah hilang, padahal banyak kesempatan untuk berbuat baik disaat kita masih memilikinya. Begitulah kenyataannya,  terkadang kita baru menyadari sesuatu yang berharga setelah sesuatu itu tiada.
Pernah sekali waktu penulis pulang kerja, mendapati anaknya duduk diatas sejadah sambil menangis. Penulis bertanya “ada apa gerangan nak, sampai harus menangis”, si anak menjawab ”kucing kita hilang, Pa”. Lalu, penulis mencoba memberi nasehat kepada anaknya seraya berkata, “setiap sesuatu yang bernyawa pasti suatu saat akan tiba ajalnya, setiap pertemuan akan ada perpisahan, maka perlakukan kucingmu dengan baik selagi dia ada disisimu, dan sekarang do’akanlah kucingmu agar bisa mendapat tempat lebih baik dari yang didapatnya saat masih tinggal bersama kita”. Sebagian orang beranggapan tidak ada gunanya memelihara seekor kucing, namun bagi anak penulis, kucing adalah sesuatu yang berharga. Begitulah, kadangkala kita menganggap kecil suatu perkara atau benda, namun sangat berharga bagi orang lain.
Ada juga sebagian orang yang menyia-nyiakan istri/suami, anak bahkan mungkin orangtuanya sendiri, mereka sibuk dengan perburuan mencari dunia walaupun terkadang berargumen bahwa semua yang dia lakukan/usahakan untuk kebahagiaan suami/istri, anak atau orangtuanya. Namun, terkadang kita tidak sempat menanyakan kepada mereka tentang apa yang sebenarnya mereka inginkan/butuhkan, karena waktu kita sudah tidak tersisa lagi buat melakukan itu. Kita baru akan sadar setelah mereka pergi dari kehidupan kita, akhirnya yang tersisa penyesalan dan mungkin saja tidak bisa diulang kembali.
Uraian diatas lebih mengena untuk hubungan sesama makhluk, bagaimana jika hubungan makhluq dengan Sang Kholiq. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan kita banyak sekali nikmat, namun sedikit sekali orang yang bisa mensyukurinya dengan baik. Lihatlah kaki kita, telah kita langkahkan kemana saja? Mata kita, apa-apa yang sudah kita lihat? Tangan kita, sudah melakukan apa saja? Telinga kita, dipakai untuk mendengarkan apa selama ini? Mulut kita, berapa banyak perkataan tidak baik keluar darinya?, seluruh tubuh kita punya hak untuk dipergunakan dengan cara dan tujuan yang baik. Sungguh, betapa besar kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala , sehingga sampai detik ini kita masih bisa menikmati anggota tubuh kita ini walaupun kita sudah banyak mempergunakannya dengan cara dan untuk tujuan yang tidak baik. Apa yang terjadi? jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkehendak untuk mengambil nikmat yang telah Dia berikan kepada kita, karena sebenarnya itu sangat mungkin terjadi.
Bagaimana perasaan kita bila mampu memiliki sesuatu yang kita cita-citakan sejak lama, tentu saja kita akan menjaganya dengan baik agar tidak rusak atau digunakan untuk sesuatu yang tidak kita kehendaki. Begitulah, perasaan seorang tuna netra jika dia bisa melihat atau seorang yang lumpuh, jika dia bisa menggerakkan kakinya,dsb. Terkadang kita lebih menghargai benda-benda yang terlihat mewah, canggih, mahal yang kita belum tentu tahu apakah benda-benda tersebut bisa memberikan banyak manfaat bagi kita atau mungkin saja akan menimbulkan penyakit dalam hati kita jika tidak dikelola dengan baik, seperti : sombong terhadap manusia disekitarnya, serakah akibat biaya operasional dan perawatannya, iri hati melihat orang lain memilki yang lebih mewah/canggih/mahal daripada milik kita, dsb. Sementara itu, jika kita mengidap suatu penyakit yang susah untuk disembuhkan, maka dengan rela kita melepas semua benda kesayangan kita agar bisa sembuh dari penyakit tersebut. Hal ini menunjukkan betapa mahal nikmat kesehatan yang diberikan kepada kita namun, sempatkah kita berterima kasih kepada yang memberikannya?. Mengapa kita tidak menghargai/mensyukuri semua yang sudah diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta‘ala dengan gratis dan bernilai sangat tinggi, sebelum akhirnya berkurang atau hilang?
Sepertinya kita belum bisa menghargai/mensyukuri nikmat indera penglihatan dengan baik sebelum kita sadar bagaimana kehidupan seorang tuna netra. Kita juga belum bisa menghargai dan mensyukuri anugerah/nikmat bisa berjalan sebelum kita sadar bagaimana seorang yang lumpuh, begitu juga anggota tubuh kita yang lain. Seharusnya kita berusaha untuk membutakan mata dari melihat yang dilarang oleh ajaran agama, berusaha untuk melumpuhkan kaki dari tempat atau perbuatan yang menyalahi tuntunan agama, berusaha untuk menulikan telinga dari mendengar suara/perkataan yang tidak baik, dsb. Seharusnya pula, kita berusaha mengisi mata dengan melihat yang diperintahkan oleh ajaran agama, berusaha memanfaatkan tangan dan kaki untuk melangkah dan berbuat amal kebaikan dan berusaha memanfaatkan telinga untuk mendengarkan tuntunan agama dan lantunan Kalam Ilahi, dsb.
Seharusnya kita minta izin dahulu jika akan memakai/mempergunakan sesuatu milik orang lain. Bagaimana tubuh kita, semuanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala , saat kaki akan melangkah, saat mata ingin melihat sesuatu, saat telinga ingin mendengar, saat tangan ingin melakukan sesuatu pekerjaan, dan semua anggota tubuh yang akan difungsikan, kita mencoba memintakan izin sebelumnya kepada yang menguasainya yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun, tidaklah semudah melaksanakannya, perlu tekad berjuang yang konsisten, karena manusia memilki musuh yang sangat handal yaitu syaithon dan syahwat, sehingga manusia sering dibuat terlena dan lupa diri.
Selanjutnya kita harusnya menyadari lalu membiasakan diri untuk selalu ingat dan sadar bahwa saat kita melihat, mendengar, berucap, berbuat dsb. Sudah pasti menggunakan fasilitas yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, dengan demikian, lambat laun, kita akan diselamatkan dari bisikan syaithon dan jebakan syahwat. Amiin.

Ref:
Al  Fajr       : 15-16
Al Isro         : 83
Al Hadid      : 22-23

NOTE 5 : DUA SISI MATA UANG

Mungkin kita pernah mendengar/membaca bahwa alam semesta ini diciptakan berpasang-pasangan, panas dan dingin, malam dan siang, laki-laki dan perempuan dan lain sebagainya. Jika kita mau meluangkan waktu sedikit untuk merenung, maka banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari perbedaan yang terjadi antara dua sisi mata uang tersebut. Tentunya, dengan cara mempelajari sifat dan karakteristik yang dimilki oleh masing-masing sisinya. Hal ini mungkin perlu kita perhatikan, karena kita sangat sulit sekali atau tidak akan pernah sama sekali berada di ke dua sisinya pada saat yang sama yang menyebabkan kita harus tetap memilih atau dipilihkan pada salah satu sisi saja, sehingga jika kita berada pada salah satu sisi berarti kita sudah meninggalkan satu sisi lainnya.
Mungkin terlintas dalam fikiran kita, bahwa kita bisa saja berada di kedua sisinya pada saat yang sama, maka yakinlah bahwa kemungkinan besar itu terjadi karena keterbatasan ilmu yang kita miliki mengenai kedua atau salah satu sisinya. Hal ini akan memberikan motivasi yang baik buat kita untuk selalu bertanya “apakah saat ini hati, perkataan atau perbuatan kita atau mungkin posisi kita sudah benar?”, sehingga dengan sendirinya kita akan terus menerus mencari ilmu akan kebenaran tentang suasana hati, isi ucapan, tingkah laku serta posisi di setiap saat dalam hidup kita. Tentu saja, dengan adanya koreksi terus menerus akan membuat diri kita sedikit demi sedikit menjadi lebih baik dari sebelumnya. Walaupun, kita juga harus tetap memliki kesadaran bahwa usaha ini tidak akan pernah selesai.
Selagi kita berusaha mencari kejelasan mengenai sisi-sisi yang ada dalam perkara yang besar/penting terutama kaitannya dengan agama, tiada salahnya jika kita mencoba mencari tahu juga sisi-sisi yang terdapat dalam perkara yang kita anggap kecil/sepele, seperti: bagaimana kita minum, memegang/membaca buku, keluar masuk rumah dan lain-lain. Perkara yang kita anggap kecil/sepele ini sangat rentan untuk menjadi celah masuknya bisikan syaithon dan jebakan syahwat, dikhawatirkan akan menjadi pemicu rusaknya perkara yang besar. Jika hal sepele/kecil tersebut ternyata pada sisi yang benar, tentunya akan memberikan manfaat untuk kita begitu juga sebaliknya, karena setiap sisi memiliki dampak yang terkadang ilmu pengetahuan kita tidak mampu menjangkaunya.
Pada saat yang sama kita bisa saja berada di suatu sisi dari berbagai macam mata uang, yang berarti kita tidak hanya berada dalam satu kondisi saja. Sebagai contoh : saat kita sholat, maka kita dihadapkan pada dua sisi hati, dua sisi ucapan dan dua sisi perbuatan. Tentu saja, memerlukan latihan yang benar diiringi kesungguhan agar bisa tetap menjaga setiap mata uang (hati, ucapan dan perbuatan) agar bisa selaras dan berada pada sisi yang kita inginkan sehingga ketiganya bisa saling menguatkan satu sama lain. Situasi seperti ini akan terus kita temui, menuntut kita untuk lebih banyak belajar terutama bertanya dari orang-orang yang sudah lebih dulu sanggup melakukannya dengan dilandasi aturan-aturan agama.
Kita juga dituntut untuk memaksimalkan satu sisi dibandingkan sisi yang lainnya, sebagai contoh: manfaatkanlah waktu luang kita sebaik-baiknya untuk berbuat baik sebelum datang waktu yang sempit, begitu juga saat sehat sebelum sakit, saat muda sebelum tua dan lain sebagainya. Kita tidak membahasnya satu persatu, namun kita sudah cukup diberi gambaran bahwa ada saat dimana kita berada pada suatu sisi namun hampir bisa dipastikan nantinya kita akan berada pada sisi yang berlawanan. Selagi kita diberi karunia keluangan waktu, kesehatan, masih muda dan kekayaan maka seharusnyalah kita berusaha memaksimalkan posisi kita sesuai kehendak yang memberi semua karunia tersebut, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, jangan menunggu sampai karunia itu hilang dari diri kita.
Sekali waktu, penulis berada di pasar untuk belanja keperluan dapur bersama istri tercinta, ada yang menarik perhatian penulis ditengah riuhnya suasana pasar, ada tiga anak kecil membawa uang receh dengan pakaian agak lusuh dan dua orang diantaranya tanpa alas kaki memesan mie instan di warung kopi, sementara disekitarnya ada sebagian orang membelanjakan uangnya yang mungkin nilainya cukup untuk membiayai keperluan makan ketiga anak tersebut selama seminggu atau mungkin sebulan. Alangkah indahnya dunia ini seandainya kita semua sadar akan hikmah dari perbedaan yang terjadi, bagaimana seandainya seorang yang sehat bersyukur dengan kesehatan yang dimilikinya dan bertanya bagaimanakah kiranya nasib/kondisi orang yang sedang sakit, sehingga terlintaslah dibenaknya untuk mengunjungi orang yang sakit dan semakin bertambahlah rasa syukur atas nikmat kesehatannya. Begitu juga orang yang kaya yang merasa telah dipercaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk dititipi harta yang banyak dan bertanya bagaimanakah nasib/kondisi orang yang tidak banyak dikarunia harta seperti dirinya, sehingga berangkatlah dia dari tempat duduknya untuk berusaha berbagi dengan orang-orang yang memerlukan sebagian kecil dari harta yang dimilkinya. Subhanallah.
Sepanjang perjalanan hidup ini, kita terus dihadapkan dengan banyak hal yang memilki dua sisi mata uang dan masing-masing sisi akan memiliki banyak ragam mata uang lagi yang masing-masing juga memiliki dua sisi yang berbeda, tidak ada bedanya dengan reaksi berantai. Masing-masing manusia dikaruniai kapasitas dan kualitas akal fikiran yang berbeda sehingga tidak heran bila nilai manusia akan ditentukan oleh akal fikiran yang dimilikinya.
Semua sisi yang kita uraikan diatas akan memiliki arah dan tujuan tertentu. Jika tujuannya diarahkan ke dunia, maka sisi-sisinya akan mengarahkannya untuk hasil yang berupa dunia, namun jika tujuannya berupa penghargaan dari manusia, maka sisi-sisinya mengarahkan kita untuk hasil yang berupa penghargaan manusia juga. Maka, akan lebih baik, jika semua sisi yang kita dapati/temui dianalisa dengan aturan agama dan arahkan menuju keridhoan AllahSubhanahu Wa Ta’ala.

Ref :
Al Lail        : 5-10
Asy Syams  : 8-10
Al Balad      :10

NOTE 4 : MODAL AWAL

Ada kalanya kita bermaksud mencoba menyampaikan sesuatu yang baru kita ketahui/yakini tentang kebenarannya kepada orang-orang di sekitar kita, namun ternyata apa yang kita sampaikan tidaklah mudah untuk bisa diterima dengan lapang dada oleh orang lain, apalagi perkara yang kita sampaikan ternyata bertentangan dengan pengetahuan atau keyakinan yang dimiliki oleh orang yang akan menerima. Kenyataan itu membuat kita sadar bahwa betapa berat beban tugas seorang manusia yang yang diutus untuk menyampaikan sesuatu ajaran kepada suatu kaum sedangkan apa yang akan disampaikannya tidak sejalan atau berbeda dengan pemahaman mereka.
Kelapangan dada dan kebesaran hati adalah modal awal dalam usaha kita untuk membina hati agar dapat menerima kebenaran yaitu dengan membuka wawasan seluas mungkin dari semua ilmu pengetahuan dan keyakinan dalam ajaran agama ini sambil kita menganalisa mana yang benar dan mana yang tidak berdasarkan bukti-bukti otentik yang ada dan memang akan tetap ada sampai dunia ini berakhir.
Perpaduan antara ilmu dan iman, akan menyaring semua masukan dan kemudian akan kita gunakan sebagai panduan kita dalam membina hati. Dengan iman, kita memohon bantuan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar kita diarahkan ke jalan yang benar karena, hanya Dia yang mampu melakukan itu. Dengan ilmu, kita bisa memperkaya akal fikiran kita untuk lebih jeli menyeleksi semua masukan sehingga akan sangat membantu hati dalam proses pengambilan keputusan mana yang baik dan mana yang buruk.
Jika berbicara mengenai akal fikiran, maka kita tidak akan terlepas dari bahasan tentang kapasitas serta kualitas akal fikiran itu sendiri. Berapa banyak ilmu pengetahuan yang bisa ditampung dan berapa cepat kemampuan akal fikiran kita untuk menganalisa semua data yang kita terima. Tentunya, masing-masing manusia akan memiliki kelebihan serta kekurangan, sehingga menjadikan hal itu sebagai pembeda antara satu manusia dengan manusia yang lain. Hal ini memberi isyarat kepada kita agar dalam menuntut ilmu tetap berupaya semaksimal mungkin, namun jangan terlalu memaksakan diri, karena akal memiliki batas kemampuan yang tidak bisa dilewati disesuaikan dengan kondisi dan situasi pada saat kita menerima ilmu.
Kita juga menyadari bahwa mencari kebenaran tidaklah mudah sehingga, kita harus memiliki kesabaran yang cukup, baik dalam hal menuntut ilmu atau menjaga keimanan. Banyak kisah yang menceritakan tentang seseorang yang tadinya biasa saja namun dengan kesungguhan serta kesabarannya berubah menjadi orang yang luar biasa. Hal ini menasehatkan kepada kita agar tidak pernah berputus asa, teruslah berusaha dan perbanyaklah berdo’a serta memohon bantuan dan bimbingan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala..
Seperti yang pernah diuraikan sebelumnya, alat untuk menjaga hati adalah dengan ilmu dan iman. Ilmu yang dimaksud disini adalah pengetahuan yang bisa digunakan untuk membedakan mana yang baik atau benar dan mana yang buruk atau salah. Sangat picik jika seseorang sudah merasa dirinya sempurna dan memiliki segala ilmu, karena semakin banyak ilmu kita peroleh, maka akan semakin banyak pula kekurangan yang kita miliki sehingga wajar saja jika perkara menuntut ilmu tidak akan pernah selesai sampai akhirnya hayat kita.
Setiap ilmu yang kita peroleh haruslah dilandasi iman, begitupun sebaliknya iman harus berdasarkan ilmu, keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Ilmu tanpa iman akan berakibat kebinasaan bagi kita bahkan bagi lingkungan sekitar, sementara iman tanpa ilmu adalah kesesatan.
Dalam menuntut ilmu, kita akan menjumpai banyak sekali cabang karena masing-masing cabang mempunyai dasar pemikiran sendiri sehingga tidak jarang terjadi pengelompokan di kalangan orang-orang berilmu disebabkan perbedaan dasar pemikiran atas sesuatu perkara. Tentu, ini akan membuat kebingungan bagi kita yang awam dengan ilmu, mana yang harus diikuti?. Tapi, janganlah kebingungan itu membuat kita mundur, justru dengan banyaknya perbedaan dasar pemikiran tersebut akan memberikan motivasi kita untuk mempelajarinya satu persatu mengenai kelebihan dan kekurangannya sehingga pada akhirnya akan kita peroleh suatu kesimpulan atas semua perbedaan yang terjadi.
Dalam upaya menghidupkan hati, ada baiknya kita mencoba mengisi hati dengan iman yang berlandaskan ilmu, karena iman inilah yang lambat laun menghapus noda-noda sehingga pada akhirnya, hati kita menjadi bersih dan siap dihiasi dengan cahaya iman serta siraman ilmu pengetahuan. Memang tidak mudah, namun cobalah mulai dengan cara mengerjakan ibadah yang wajib sebagai bentuk usaha kita mengisi hati dengan iman dan berusaha mencari ilmu yang berkaitan dengan ibadah tersebut serinci mungkin sebagai landasan kita beribadah dan setelah kita mendapatkan ilmunya segera kita koreksi lalu segera dipraktekkan. Sepertinya tidaklah mudah dan akan butuh banyak perjuangan, namun saat kita berupaya berjuang untuk melakukan ibadah sebaik mungkin, maka saat itulah hati kita perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, menghidupkan hati kita. Sampai suatu saat, dengan sendirinya ibadah itu akan berubah dari beban menjadi kebutuhan.
Dari satu ibadah ke ibadah yang lain, kita terus belajar dan mempraktekkan serta mengoreksinya. Seiring perjalanan kita memperbaiki cara ibadah kita, berusahalah tetap memohon bantuan dan bimbingan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, karena syaiton dan hawa nafsu juga akan semakin meningkatkan pasukannya. Jangan sekali-kali manusia seperti kita merasa/berfikir mampu melakukan itu semua tanpa bantuan dan bimbingan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, jelas hal itu mustahil. Jadi sepatutnyalah, kita juga terus menerus bersyukur atas setiap pencapaian yang kita peroleh, karena itu tidak akan berhasil tanpa bantuanNya.
Rasa ketidakmampuan atas segala hal dan tetap bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikanNya kepada kita adalah perhiasan hati yang sangat mahal, sehingga jagalah dengan baik, karena secara tidak langsung kita sudah memulai pengobatan dari penyakit hati, seperti : sombong, iri hati, serakah dan lain lain.
Bagaimana orang bisa menyombongkan dirinya sementara dia sadar segala sesuatu yang dia miliki hanyalah titipan belaka. Bagaimana seorang manusia bisa memelihara sifat iri hati kalau dia tahu segala sesuatu yang dimiliki manusia sudah diatur oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan apa-apa yang menyangkut perkara dunia tidak ada yang kekal sehingga sewaktu-waktu jika Allah Subhanahu Wa Ta'ala menghendaki akan mengambilnya, maka hilanglah itu semua. Bagaimana seorang manusia bisa bersifat serakah akan dunia ini, jika dia tahu bahwa semuanya sudah diatur oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, akankah keserakahannya itu bisa membuat hatinya tenang atau hidupnya bahagia, karena kita semua tahu, keserakahan tidak memiliki ujung dan akan menimbulkan dampak negatif, baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.
Hati akan menjadi tenang saat kita terhubung dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tidaklah salah jika kita berkesimpulan bahwa benteng paling kuat dalam menjaga hati adalah selalu menghubungkan hati dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hal ini sudah menjadi semboyan yang terus dikumandangkan oleh orang-orang yang menyeru kepada kebaikan agar kita selalu berjuang memperbaiki benteng hati kita, karena akan selalu ada yang berusaha menjebolnya dari segala penjuru, baik secara sadar maupun tidak sadar.
Ibarat balon,roda dan nasi dalam bahasan sebelumnya, maka janganlah mencari jalan pintas dalam menuntut ilmu atau menambah iman, sehingga mencari yang instan atau karbitan, jelas ini akan berakibat tidak baik dan kurang terjamin kekokohannya karena tidak memiliki dasar/pondasi yang kuat. Terkadang ada orang yang terlihat bernilai tinggi dihadapan manusia namun ternyata ada orang lain yang lebih dari dia padahal secara kasat mata tidak terlihat kelebihan yang mencolok, namun ternyata tingkat kesungguhan/kerja keraslah yang menjadikan perbedaannya.
Ada sebagian orang yang menempuh suatu jalan yang dianggapnya bisa merubah dirinya secara signifikan dalam waktu yang singkat tanpa dibarengi ilmu pengetahuan yang cukup, sehingga berakibat yang tidak baik. Jadi, janganlah tergoda dengan iming-iming ilmu yang belum jelas kebenarannya, yang bisa secara cepat menaikkan derajat kita atau suatu ibadah tanpa landasan yang benar, yang bisa mempercepat kita menggapai sesuatu tingkatan. Mulailah semuanya dari awal sehingga apa yang kita bangun akan menjadi kokoh. Nilai suatu pencapaian bukan semata-mata dilihat dari hasil akhirnya, tapi tergantung juga dari bagaimana usaha/kesungguhan dalam mencapainya.

Ref :
At Takwir        : 27-29
Az Zukhruf      : 36
Al Kahfi          : 110

NOTE 3 : MEMULAI PERUBAHAN

Setelah tersadar, tiba saatnya kita bangun dan berangkat untuk menggali kekuatan yang ada dalam diri kita dan mencoba memulai sesuatu yang selama ini nyaris terlupakan. Sebelum itu, marilah kita bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala sehingga seakan-akan kita telah dibangunkan dari tidur yang panjang lalu kemudian kita tersadar bahwa betapa banyak kebaikan dalam kehidupan ini yang disia-siakan selama kita tertidur.
Selayaknya, kita memulai untuk segera berusaha mengoreksi semua hal yang akan kita ucapkan atau lakukan, apakah itu benar ataukah salah. Kita berharap agar kesalahan yang telah lewat bisa memberikan tanda atau keterangan bahwa ini jangan dilakukan lagi atau bahkan tidak boleh didekati lagi. Sehingga, muncul rasa takut, keburukan akan menggiring kita untuk kembali tertidur dan kita tidak tahu apakah kita masih punya kesempatan untuk bisa bangun lagi.
Tidak semudah diucapkan/dituliskan, dalam prosesnya perbaikan diri memiliki banyak kemungkinan untuk kembali tergelincir atau bahkan terjerumus ke dalam keburukan. Jika hal itu terjadi, maka kita harus berusaha untuk bangkit dan bangkit lagi, sehingga akhirnya kita bisa memantapkan diri dan terus berharap agar tidak tergelincir lagi. Kita harus sadar bahwa dalam proses suatu perubahan, akan banyak menemui rintangan dan halangan maka, niatkanlah dalam hati untuk tetap terus melangkah.
Melihat sebuah balon yang tadinya besar dalam waktu beberapa hari akan menjadi kecil dengan sendirinya atau seperti udara yang mengisi roda kendaraan akan berkurang dengan sendirinya atau ibarat beras yang kita masak menjadi nasi, itulah beberapa perumpamaan sebuah proses perubahan. Sebuah perubahan akan terasa nyaman kalau terjadi sesuai proses alaminya tanpa ada paksaan, balon akan pecah bila dipaksa mengecil, begitu juga roda kendaraan akan mengeluarkan bunyi yang kuat bila tekanan anginnya dipaksa berkurang, beras akan menjadi arang jika dipaksa menjadi nasi.
Mulailah dengan hal yang mudah atau kita anggap mudah untuk dilakukan, satu persatu, sedikit demi sedikit. Tinggalkan hal yang buruk semampu kita, jika belum bisa, coba menjauhi hal yang bisa membawa kita ke arah keburukan tersebut, dan jika terasa berat untuk meninggalkannya maka, mohonlah bantuan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Begitu juga dalam hal mengerjakan kebaikan, mulailah dengan perkara yang kita anggap mudah untuk kita lakukan, jika belum bisa maka berdoa dan niatkanlah dalam hati untuk melakukannya pada kesempatan lain.
Mungkin lebih mudah jika kita mulai dari anggota tubuh kita dengan menjauhkan anggota tubuh kita dari peluang/kesempatan untuk berbuat hal yang buruk dan berusaha untuk mengalihkannya ke perkara yang lebih bermanfaat. Berusahalah untuk memenangkan hati nurani saat berhadapan dengan keinginan buruk syahwat. Salah satu tanda keinginan itu datangnya dari syahwat adalah jika perkara itu seakan-akan baik/nyaman/enak/sedap/bagus atau yang sejenisnya, namun pada akhirnya/ujungnya akan berakibat buruk. Berilah kesempatan masing-masing anggota tubuh kita untuk berbuat baik, terutama panca indera yang berfungsi sebagai alat untuk merespon aktifitas disekitar kita. Jadikanlah mata dan telinga kita dibantu tangan dan kaki sebagai alat untuk menuntut ilmu agar akal fikiran kita bisa memiliki banyak referensi dalam membedakan mana perkara yang baik dan mana perkara yang buruk.
Meninggalkan suatu hal yang kita anggap sepele, baik itu mengenai perkara yang buruk maupun yang baik, sepertinya mudah jika hanya sekali-kali saja namun akan menjadi berat jika berusaha untuk melanggengkannya. Perkara buruk yang dianggap kecil akan membawa kita ke perkara buruk yang lebih besar. Perkara yang baik walaupun kecil tapi dilakukan terus menerus tanpa terputus akan memiliki nilai yang tinggi dan membawa kita kepada kebaikan yang lebih besar.
Mengingat keterbatasan ilmu yang kita miliki, terkadang kita tidak sadar melakukan suatu pekerjaan yang terlihat biasa saja ternyata membuat suasana hati kita bergejolak sehingga mengajak kita mengerjakan suatu pekerjaaan yang lebih besar. Oleh karena itu, kita berusaha meninggalkan/menjauhi perkara yang kita anggap biasa namun ternyata perkara tersebut cenderung membawa kita menuju hal-hal yang buruk.
Setiap dosa akan membuat satu noda hitam di hati. Kita tidak tahu berapa banyak noda-noda hitam yang ada di hati kita, karena terkadang kita tidak sadar sudah menambahkannya. Jika terus dibiarkan maka, hati kita akan bertambah hitam sampai akhirnya hati menjadi gelap dan susah ditembus oleh cahaya kebenaran. Berusahalah untuk membersihkan noda hitam di hati kita dengan cara memperbanyak ucapan dan perbuatan yang baik. Semakin banyak noda hitam di hati kita maka, semakin banyak ucapan dan perbuatan baik yang harus kita lakukan untuk menghapusnya.
Jika, hati yang tidak dikelola dengan baik maka, akan menimbulkan berbagai macam penyakit yang menjadi titik awal dari hampir semua keburukan, seperti: sombong, dengki, cinta dunia dan lain sebagainya. Jika, penyakit hati tersebut tidak diusahakan kesembuhannya atau bahkan dibiarkan berkembang tanpa kendali akan mengakibatkan kerugian baik bagi lingkungan sekitar maupun bagi diri kita sendiri. Terkadang, kita tidak sadar memiliki penyakit hati karena kita tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang penyakit tersebut sehingga tanpa kita sadari penyakit tersebut berkembang menjadi penyakit kronis yang susah diobati.
Dari uraian di atas, sudah sepatutnya kita harus mendahulukan perbaikan hati saat memulai memperbaiki diri, karena hati yang menentukan baik atau buruknya suatu ucapan atau perbuatan seseorang. Hati yang baik tidak akan menghasilkan ucapan atau perbuatan yang buruk, begitu juga sebaliknya hati yang buruk tidak akan menghasilkan perbuatan yang baik kecuali hanya penampilannya saja.

Ref :
At  Taghobun      : 11
Ali Imron             : 145
ALl Bqqoroh        : 212

NOTE 2 : MENASEHATI DIRI

Secara sadar atau tidak sadar, kita tergelincir atau terjerumus daam kesalahan. Memang begitulah, kenyataan yang ada dalam kehidupan manusia, tidak ada seorang pun di muka bumi ini bisa terlepas dari kesalahan, bukan hanya yang sudah atau sedang terjadi bahkan yang akan datang.
Perumpamaan seorang pelajar SMU yang mengikuti ujian kelulusan atau ujian masuk perguruan tinggi, mungkin hanya beberapa saja yang bisa menghasilkan nilai sempurna atau tidak ada sama sekali. Bagaimana dengan kehidupan seorang manusia yang memiliki berbagai macam bentuk ujian, semakin kita belajar memahaminya semakin banyak bentuk ujian yang harus kita hadapi, semakin tinggi nilai seorang manusia maka akan semakin tinggi pula kualitas ujian yang akan dihadapinya.
Kita mencoba untuk mengingat kembali berbagai keburukan yang telah dilakukan, selanjutnya kita berharap bisa terhindar dari kesalahan yang berikutnya terutama kesalahan yang terjadi tanpa kita sadari. Tentu saja hal ini tidaklah mudah, namun sebagai langkah awal mungkin ada baiknya kita mencoba melihat ke tempat asal (sumber) keburukan, yaitu hati. Setiap saat dan terus berlanjut sepanjang kehidupan manusia di dunia ini, telah dan sedang terjadi peperangan di dalam diri manusia antara iman dan ilmu melawan tipu daya syaithon dan hawa nafsu syahwat. Secara sederhana, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa keburukan terjadi jika tipu daya syaithon dan jebakan syahwat berada di atas iman dan ilmu, begitupun sebaliknya.
Terasa cukup berat, membayangkan perjuangan yang akan kita hadapi karena setiap saat kita harus berusaha mengontrol hati dengan iman dan ilmu agar terhindar dari keburukan, sementara syaithon baik berupa manusia atau jin terus berupaya mencari celah dimana cahaya ilmu dan iman tidak dapat menghalangi mereka masuk untuk membisikkan ajakan dan rayuannya. Bersamaan dengan itu, hawa nafsu syahwat bergejolak untuk segera diwujudkan. Oleh sebab itu, manusia tidak akan sanggup menghadapi semua ajakan, rayuan, bisikan dan jebakan yang menerpa dirinya tanpa bimbingan dan bantuan dari Sang Maha Penguasa.
Setelah menyadari keburukan yang telah kita lakukan, kemudian kita berusaha mengevaluasi diri dengan mencari tahu sumber kesalahan dalam upaya mengenali celah lemah dalam diri kita sehingga kita bisa segera memperbaiki dan mencegahnya terulang kembali. Sumber kesalahan yang berpusat di hati merupakan salah satu bentuk penyakit yang bersifat kompleks dan berantai sehingga tidaklah mudah mendiagnosanya tanpa ilmu dan pengalaman yang memadai serta petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Sehingga, salah satu hikmah dari suatu usaha menuju kebaikan yaitu kerakusan akan ilmu pengetahuan.
Beberapa contoh nyata yang ada disekeliling kita, misalkan saja keburukan itu berupa mencuri, maka sumber keburukan itu bisa berupa keputus asaan, kecintaan terhadap dunia, kedengkian atau yang lainnya. Misalkan lagi, keburukan itu berupa perbuatan zina, maka sumber keburukan itu bisa datang dari mata dengan melihat, telinga dengan mendengar, hidung dengan mencium serta banyak lagi celah yang terkadang terlihat seakan akan hal itu merupakan perkara yang baik. Namun, ternyata berdampak  atau mengarah ke perkara yang buruk. Ada juga, celah yang nampaknya tidak berhubungan sama sekali dengan keburukan yang terjadi namun sebenarnya celah itulah yang membawa kita menuju keburukan. Tanpa kita sadari dengan mencari tahu sumber keburukan, maka secara tidak langsung kita sudah menambah sedikit demi sedikit ilmu pengetahuan tentang bentuk-bentuk tipu daya syaithon.
Seperti halnya penyakit jasmani, penyakit hati jika dibiarkan saja tanpa diusahakan kesembuhannya akan semakin bertambah parah sehingga berakibat paling fatal berupa pembenaran dari suatu keburukan. Sumber keburukan akan bertambah, tidak hanya kualitasnya tapi juga kuantitasnya, karena semakin banyak celah yang menjadi sumber suatu keburukan semakin banyak pula kemungkinan kesalahan itu akan terjadi. Untuk itulah, kita berusaha mencari tahu celah yang kita miliki, kemudian berusaha menutupinya sedikit demi sedikit, dengan cahaya iman dan ilmu. Secara perlahan, walaupun tidak seluruhnya, celah yang ada bisa tertutupi dan akhirnya kita bisa memiliki kemampuan untuk menolak tipu daya syaithon dan menghindari jebakan syahwat.
Celah yang paling rentan terhadap pengaruh dari luar adalah panca indera yang berfungsi sebagai radar penerima. Semua data yang diperoleh dikirimkan ke akal fikiran untuk diolah sesuai kemampuannya, lalu hasilnya dikirimkan ke hati untuk kemudian diputuskan sesuai kadar iman yang dimilikinya. Maka, akan lebih baik bila kita tidak memutuskan atau melakukan sesuatu perkara tanpa memiliki ilmu tentang perkara tersebut. Apalagi, jika ditambah kurangnya keimanan dalam hati kita, maka dengan kondisi seperti itu, bisa dipastikan jalan yang kita lalui tidak lain adalah kesesatan, kecuali yang dikehendaki oleh yang Maha Kuasa.
Di sisi bagian dalam ada hawa nafsu manusia yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan akal dan hati dalam mengolah dan memutuskan. Dari celah inilah, sebagian besar  kesalahan manusia dimulai. Hawa nafsu yang memiliki berbagai macam bagian bisa menjadi bermanfaat jika dikendalikan dengan baik berlandaskan iman dan ilmu, namun akan menjadi bahaya jika hawa nafsu yang berbalik menjadi pemegang kendali. Maka, jika nafsu kebinatangan yang mengendalikan maka manusianya akan bertingkah seperti binatang, jika nafsu kesyaithonan yang mengendalikan maka manusianya akan bertingkah seperti syaithon. Begitulah, pada asalnya hati manusia adalah suci sampai hawa nafsu mengendalikannya.
Selain mengenal sumber keburukan, kita juga sebaiknya mengenal benih kebaikan sebagai usaha memperkuat balatentara kita, yaitu iman dan ilmu, agar mampu mengalahkan tipu daya syaithon dan jebakan syahwat. Iman akan bertambah seiring kita melakukan kebaikan terutama yang berkaitan dengan ritual ibadah sebagai upaya untuk tetap mendekatkan diri dan memohon perlindungan kepadaNya. Sementara, ilmu diperlukan dalam upaya mengenali keburukan dan melaksanakan kebaikan,  karena tipu daya syaithon dan jebakan syahwat tidak hanya melalui celah dalam hal kesalahan tapi juga celah dalam hal kebaikan bahkan tipu daya syaithon lebih halus dan lebih berkualitas dalam hal kebaikan, karena manusia yang dihadapinya juga lebih berkualitas.
Setelah kita mencoba mencari sumber dari suatu keburukan, tentu akan lebih baik kita juga mengenal dampak negatif dari keburukan tersebut. Misalkan, seperti contoh diatas, keburukan yang dilakukan adalah mencuri, maka resikonya selain tertangkap atau dihukum, memiliki dampak negatif lain diantaranya: memakan barang yang haram, menyakiti makhluk, membuat gelisah, membuat ketagihan maksiat, dan lain sebagainya. Ternyata larangan Sang Maha Penguasa memiliki bahaya yang sangat banyak, wajar saja jika makhlukNya dilarang melakukannya. Ibarat orang tua melarang anaknya agar terhindar dari bahaya, apalagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang Maha Mengetahui.
Selain berusaha mengenali dampak negatif dari suatu keburukan, maka tidak ada salahnya jika kita mengenali dampak positif dari suatu kebaikan, baik terhadap diri kita maupun mahkluk lain disekitar kita. Selain pahala atau hal yang tersirat yang dapat kita peroleh dari suatu kebaikan, tapi juga akan menambahkan keimanan, melindungi diri dari tipu daya syaithon, memancarkan aura positif ke lingkungan sekitarnya, menenangkan hati dan lain sebagainya. Sementara kebaikan yang berhubungan dengan manusia akan mempererat silaturahmi, menumbuhkan sikap tolong menolong, menumbuhkan sikap saling menghargai, menciptakan citra positif pada diri kita dan lain sebagainya. Tapi, semua dampak positif dari suatu kebaikan bukanlah tujuan sebenarnya, tujuan sejati adalah mengharapkan ridho dari Sang Maha Pencipta.
Akhirnya, adalah suatu keburukan, jika kita terlena atau tenggelam dalam penyesalan yang berkepanjangan disebabkan noda dan dosa yang kita telah lakukan, sehingga membuat kita lupa bahwa Sang Maha Pengampun sangat menyenangi hambaNya yang ingin memperbaiki diri. Keburukan bisa memiliki dampak positif, jika keburukan itu membuat kita berusaha dengan sungguh sungguh untuk mendekatkan diri kepadaNya sebagai bentuk tanggungjawab dari perbuatan kita selama ini. Dan, juga akan membuat kita lebih merendah/tunduk dalam melakukan ibadah kepadaNya.
Mari, kita mulai melangkah untuk memperbaiki diri kita dengan mengevaluasi semua keburukan yang sudah terjadi dan memohon ampun kepadaNya serta terus berusaha memperbaiki kebaikan yang sudah kita miliki.

Ref :
Al Insyiqoq     : 6
Al Insan          : 2-3
An Najm         : 31-32

NOTE 1 : AKHIR PENCARIAN

Dalam sebuah perjalanan hidup, terkadang kita berada dalam suatu kondisi yang menuntut kita membuat sebuah keputusan yang mau tidak mau harus diambil saat itu juga, sehingga kita hanya diberikan waktu yang sangat singkat untuk berfikir, lalu hasil dari keputusan tersebut ternyata memberikan dampak yang cukup berarti terhadap sisa perjalanan hidup kita. Kondisi seperti itu tidak hanya terjadi satu atau dua kali bahkan berkali kali, namun tidak semuanya atau mungkin hanya sebagian saja yang bisa kita putuskan dengan baik dan menghasilkan hal yang baik pula, tergantung kondisi akal fikiran dan hati kita saat mengambil keputusan.
Seiring perjalanan waktu, banyak hal yang terjadi pada diri kita, adakah terbetik di dalam hati sebuah keinginan untuk mencoba mengevaluasi fikiran dan hati? Berharap hasilnya nanti akan berefek ke tingkah laku sebagai buktinya. Walaupun, itu hanya sebuah niat yang belum tentu bisa tercapai sesuai harapan, namun dalam kenyataannya, sangat disadari bahwa segala bentuk perubahan perlu proses, semakin tinggi tingkat perubahan yang akan dicapai maka, akan semakin panjang dan rumit proses yang harus dilewati. Butuh keinginan yang kuat agar kita bisa tetap berharap dan terus mencoba serta berusaha tanpa pernah putus asa untuk suatu perubahan menuju ke arah kebaikan.
Berawal dari evaluasi (muhasabah) yang terasa cukup panjang dari apa yang telah dilakukan, difikirkan dan diyakini sehingga, seharusnya kita sadar, bahwa terlalu banyak kesalahan yang telah kita lakukan, baik itu perkara hati, lisan atau perbuatan, baik yang menyangkut hubungan dengan Sang Maha Pencipta maupun sesama makhluknya terutama manusia. Terkadang, tanpa kita sadari, air mata sudah menetes setelah menyadari betapa banyak dan besarnya kesalahan yang telah kita lakukan sehingga, kita sudah membayangkan betapa berat rintangan yang harus dihadapi dalam proses merubah diri menjadi lebih baik.
Mungkin saja ada sedikit keraguan dalam hati, sanggupkah kita menjalani proses ini? Dan akankah tercapai apa yang kita inginkan? Hanya Sang Maha Pencipta yang bisa membantu, membimbing dan mengarahkan kita.
Banyak faktor pemicu yang memunculkan keinginan dalam hati kita untuk berubah, salah satunya adalah manusia di sekitar kita. Mungkin saja kita bertemu seseorang yang mampu memberikan motivasi untuk menghentikan sebuah petualangan tanpa akhir yang penuh sesak dengan dosa dan kesalahan sehingga terbetik dalam hati kita untuk berikrar bahwa “Petualangan selesai saatnya mencari sesuatu yang hakiki”. Tapi, ini bukanlah akhir tapi merupakan awal dari suatu perjuangan yang tidak bisa dipungkiri lagi akan butuh segudang pengorbanan.
Umumnya, bentuk pengorbanan awa yang kita lakukan berupa meninggalkan hal yang kita senangi apalagi hal itu sudah tertanam ke dasar hati sehingga terasa berat untuk ditinggalkan mengingat terlalu banyak kenangan yang sudah dilewati. Tapi, kita tidak boleh terlalu lama terbuai oleh semua kesenangan yang dalam prosesnya penuh dengan hal nyata atau tidak nyata berada di luar koridor aturan Sang Maha Pengatur sehingga pada ujungnya akan berubah menjadi suatu hal yang menyakitkan. Hal itu merupakan salah satu bukti bahwa kita berada dalam lingkaran semu. Kesenangan sejati haruslah berdasarkan aturan-aturan yang telah dibuat oleh Sang Maha Pencipta Kesenangan itu sendiri.
Kita hanya berusaha dan berdo’a namun Sang Maha Penciptalah yang menentukan. Kita hanya mampu berusaha dan berjuang semaksimal mungkin untuk tidak hanya meninggalkan tapi juga menghindari segala sesuatu yang menyebabkan kita terbuai oleh tipu daya syaiton dan jebakan syahwat yang selalu mendampingi kita dimana dan kapanpun kita berada untuk semaksimal mungkin juga berupaya mengajak kita untuk membenarkan apa yang dilarang oleh Sang Maha Pencipta.
Bagaimana kita bisa mendapat bimbingan, karunia dan rahmat serta segala kebaikan yang telah dijanjikanNya jika kita berada di luar jalur yang telah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta? Butuh kekuatan dan keyakinan hati untuk tetap berjalan dalam kebenaran, namun tidaklah semua usaha, perjuangan dan pengorbanan itu sia-sia jika kita melakukannya dengan penuh keikhlasan dengan mengharap ridho dari Sang Maha Pencipta sebagai tujuan utama.
Akhirnya, semoga langkah ini akan menjadi kebaikan bagi kita semua termasuk orang disekitar kita dan menjadi titian awal menuju suatu perubahan yang mendasar dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita hanya ditugasi untuk beribadah (menjauhi laranganNya dan mengerjakan perintahNya), adapun perkara lain selain itu, kita berserah diri dan biarkanlah Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang memilihkan/mengatur jalan mana yang harus kita tempuh.

Ref :
Az Zumar       : 53-59
Ali Imron        : 135
Al Baqoroh     : 284-286